THE TWO POPES
The Two Popes merupakan film yang lebih menekankan pada drama biografi yang dirilis pada 29 November 2019, disutradari oleh Fernando Meirelles.
Bercerita tentang 2 paus Benediktus XVI dan Fransiskus. Paus Benediktus XVI yang diperankan oleh Anthony Hopkins, yang ingin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai paus. Beliau mengalami keraguan diri sehingga membuatnya bersikap mempertahankan keadaan yang ada. Sedangkan Kardinal Bergoglio yang diperankan oleh Jonathan Pryce juga memiliki rasa frustasi akan arahan gereja, sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri. Beliau berangkat menuju kediaman Paus Benediktus XVI. Namun ketika sampai di sana, Paus Benediktus tidak menandatangani surat pengunduran diri Bergoglio. Tidak hanya di tempat kediaman Paus, saat Kardinal Bergoglio mengikutinya ke Roma, Paus Benediktus tetap tidak mengizinkannya untuk pensiun. Dia mengatakan bahwa Kardinal Bergoglio sangat cocok untuk menjadi Paus berikutnya, sekalipun ditentang sendiri oleh Kardinal Bergoglio, dengan alasan tidak masuk akal. Di sana pula, keduanya saling mencurahkan kisah masing-masing (sebelumnya Kardinal sudah menceritakan sedikit tentang awal masuknya dia di biara yaitu dengan membatalkan rencana pernikahannya), yang setelahnya mereka berdua ingin memohon pertobatan satu sama lain. Walaupun awalnya Kardinal Bergoglio sangat tidak menyetujui pengunduran diri Paus, tetapi Paus Benediktus XVI berkeras hati ingin mengundurkan diri. Akhirnya, keduanya pun saling mengaku dan saling mengampuni.
Akhirnya, setelah banyak perbincangan dan beban yang yang tidak terbebani lagi, Paus Benediktus XVI resmi mengundurkan diri, dan yang menggantikannya merupakan Kardinal Bergoglio, dengan perolehan suara terbanyak. Kardinal yang menjadi Paus tersebut bernama Paus Fransiskus.
Kisah ini menurut saya sangat menarik bagi umat, terutama bagi yang beragama Katolik Roma. Hal tersebut dikatakn karena saya (penonton) bisa mengetahui hal di balik tembok Vatikan. Kebanyakan umat mengatakan bahwa Paus merupakan Wakil Kristus, tetapi mereka pun ternyata juga memiliki rasa frustasi yang sama dengan dengan umat pada umumnya. Mereka memiliki masalah yang terkadang sangat membuat mereka bingung bagaimana cara menghadapinya, bahkan diceritakan mereka juga mencari petunjuk Tuhan di sekitar mereka. Paus Benediktus XVI dalam cerita merupakan orang Jerman, di mana banyak umat menjulukinya sebagai salah satu Nazi. Beliau sangat kukuh terhadap pendirian dan keputusannya. Berbanding terbalik dengan Kardinal Bergoglio, yang yang berpandangan bebas. Bahkan saat dia tidak diizinkan untuk pensiun, dia mengatakan kepada Paus, yaitu "selesaikan apa yang sudah kamu mulai". Saya merasakan hal tersebut tidak hanya ditujukan bagi Paus Benediktus XVI, melainkan kepada semua umat yang menonton film tersebut, agar bertanggung jawab kepada tugas yang diberikan. Apa yang sudah menjadi tanggung jawab, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan pada waktu yang sudah ditentukan. Di sisi lain, saya melihat keteguhan hati dari Paus Benediktus XVI, di mana katanya suara Tuhan sempat tak terdengar, kini kembali hadir yaitu melalui Kardinal Bergoglio. Karena itu, dia sangat tidak mau menandatangani surat pengunduran diri Kardinal, karena dia sangat menghargai dan mendengar suara hati yang ada pada dirinya.
Film ini mengajarkan kepada semua umat beriman bahwa penting sekali untuk mendengar suara hati. Selain itu, yang saya pelajari dari film ini adalah semua manusia memiliki jalannya masing-masing. Sekalipun berbuat baik, tentu ada saja jalan yang akan dipelajari ke depannya, walaupun melalui cobaan yang begitu berat. Kardinal Bergoglio kehilangan banyak kawan pastornya, dia juga sangat menyesal karena dia berpikir tidak sempat menolong teman-temannya. Namun menurut saya, kisah tersebut selain menunjukan jalannya untuk menjadi Paus, setelah Benediktus XVI, juga menunjukan jalan dari pastor-pastor tersebut. Barangkali di sanalah (saat mereka dihukum mati), saat terakir bagi mereka. Ditujukan bagi semua umat, bahwa manusia hidup di dalam Tuhan, tetapi tidak bisa memindahkan posisi Tuhan. Manusia tetaplah manusia, bukan Tuhan. Jadi setinggi apapun jabatannya, dia tetaplah lemah di mata Tuhan, dan tetap menjadi manusia berdosa. Maka perlu sekali untuk mengaku segala kelemahan yang ada, bahwa sebagai anak Tuhan, manusia dari yang terkecil jabatannya, sampai yang memiliki jabatan besar di gereja, sering kali mengecewakan Tuhan dengan tidak memiliki keberanian menjalani/merasakan hidup. Tidak menjalani hidup sebagai mana mestinya.
Sekali lagi, film ini lebih ditujukan bagi penonton yang memang percaya akan adanya Tuhan dan mau beriman pada Gereja Katolik Roma.
Sumber Gambar: https://m.imdb.com/title/tt8404614/
Mamtap
BalasHapusMakasih kaka
HapusBagus reviewnya
BalasHapus🙏🙏
HapusMantap skali..semangat terus
BalasHapusMakasih mit 😁
HapusSeru sekali kalau didiskusikan ini film em 😇🌻🌻
BalasHapusCuzzzz diskusi d kmpus yuk..
HapusMantap kaka indik🤗
BalasHapusMakasihhh🤗
HapusKeren kka indik👍
BalasHapusMakasih🙏🤗
HapusMntap kk indik👍
BalasHapusMakasih🙏🤗
HapusMenarik
BalasHapus